Pappaseng Sebagai Nilai Karakter Generasi Milenial Di Kabupaten Bone: Tinjauan Sosiopragmatik
Pappaseng as a Source of Character Values for the Millennial Generation in Bone Regency: A Sociopragmatic Study
DOI:
https://doi.org/10.36709/pesastra.v3i2.181Keywords:
pappaseng, karakter, generasi milenial, Bugis, sosiopragmatikAbstract
Penelitian ini berangkat dari melemahnya transmisi pappaseng sebagai pesan leluhur Bugis di tengah perubahan sosial dan dominasi komunikasi digital pada generasi milenial. Penelitian bertujuan menjelaskan bentuk, fungsi sosiopragmatik, dan nilai karakter pappaseng yang hidup dalam masyarakat Kabupaten Bone. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan observasi partisipatif, dokumentasi teks, perekaman, pencatatan, serta analisis tematik-sosiopragmatik. Data utama berupa tiga bentuk pappaseng, yakni elong, warekkada, dan tuturan percakapan, yang diperoleh dari dokumentasi budaya dan informan milenial yang dipilih secara purposif. Hasil menunjukkan bahwa pappaseng beroperasi sebagai tuturan direktif bernilai normatif yang menanamkan religiositas, pengendalian diri, siri’, penghormatan sosial, tanggung jawab ekologis, dan keberlanjutan budaya. Bentuk tuturan menentukan strategi penyampaian pesan, sedangkan otoritas leluhur memperkuat daya ikat moralnya. Penelitian menyimpulkan bahwa pappaseng tetap relevan sebagai sumber pendidikan karakter kontekstual. Kontribusi penelitian ialah merumuskan pappaseng sebagai wacana direktif kultural yang menghubungkan bentuk bahasa, norma sosial, dan internalisasi karakter generasi muda di Bone kontemporer secara sistematis.
Downloads
References
Abbas, I. (2013). Pappaseng: Kearifan lokal manusia Bugis yang terlupakan. Sosiohumaniora, 15(3), 272–284. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v15i3.5752
Assmann, J., & Czaplicka, J. (1995). Collective memory and cultural identity. New German Critique, 65, 125–133. https://doi.org/10.2307/488538
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE.
Fathiyah, F., Cangara, H., & Rahman, N. (2018). Pappaseng: Pewarisan pesan-pesan komunikasi budaya dalam pembentukan karakter perempuan Bugis di Sulawesi Selatan. KAREBA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 120–128.
Fitriana, F., Irawan, A. W., & Burhanuddin, B. (2021). Karakter ideal dalam pappaseng Bugis: Implikasi bagi layanan bimbingan konseling. Jurnal Mimbar: Media Intelektual Muslim dan Bimbingan Rohani, 7(1), 1–21. https://doi.org/10.47435/mimbar.v7i1.614
Fitriani, N., Nensilianti, N., & Saguni, S. S. (2021). Fungsi pappaseng toriolo dalam masyarakat Bugis Soppeng: Kajian etnolinguistik. Indonesian Journal of Social and Educational Studies, 2(2). https://doi.org/10.26858/ijses.v2i2.24903
Goddard, C., & Wierzbicka, A. (2004). Cultural scripts: What are they and what are they good for? Intercultural Pragmatics, 1(2), 153–166. https://doi.org/10.1515/iprg.2004.1.2.153
Handayani, D., & Sunarso, S. (2020). Eksistensi budaya pappaseng sebagai sarana pendidikan moral. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(2), 232–241. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i2.974
Hasmawati, S. U., Gusnawaty, G., & Said, I. M. (2023). Metafora dan fungsi pappaseng masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(8), 3225–3232. https://doi.org/10.55681/sentri.v2i8.1385
Iskandar. (2016). Bentuk, makna, dan fungsi pappaseng dalam kehidupan masyarakat Bugis di Kabupaten Bombana. Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra), 1(2).
Jemmain. (2011). Aktualisasi nilai pappaseng dalam rangka pembangunan karakter bangsa. Sawerigading, 17(3), 321–334. https://doi.org/10.26499/sawer.v17i3.387
Locher, M. A. (2013). Relational work and interpersonal pragmatics. Journal of Pragmatics, 58, 145–149. https://doi.org/10.1016/j.pragma.2013.09.014
Mustafa. (2013). Nilai kejujuran dalam pappaseng tomatoa. Sawerigading, 19(2), 159–168. https://doi.org/10.26499/sawer.v19i2.432
Nowell, L. S., Norris, J. M., White, D. E., & Moules, N. J. (2017). Thematic analysis: Striving to meet the trustworthiness criteria. International Journal of Qualitative Methods, 16, 1–13. https://doi.org/10.1177/1609406917733847
Rahim, A. R., Nojeng, A., Arifuddin, A., Paelori, T., & Syukur, A. (2022). Implikatur percakapan dalam papaseng toriolo sebagai bentuk penanaman nilai karakter bagi masyarakat suku Bugis. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(4). https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v7i4.6814
Rahmi, S., Mappiare-AT, A., & Muslihati, M. (2017). Karakter ideal konselor dalam budaya Bugis: Kajian hermeneutik terhadap teks pappaseng. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 2(2), 228–237. https://doi.org/10.17977/jp.v2i2.8535
Sabriah. (2012). Potensi pappaseng to riolo sebagai pembentuk kepribadian masyarakat Bugis. Sawerigading, 18(3), 477–484. https://doi.org/10.26499/sawer.v18i3.406
Searle, J. R. (1976). A classification of illocutionary acts. Language in Society, 5(1), 1–23. https://doi.org/10.1017/S0047404500006837
Spradley, J. P. (1980). Participant observation. Holt, Rinehart and Winston.
Suhra, S. (2019). Nilai-nilai pendidikan karakter dalam budaya masyarakat Bugis Bone. Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam, 11(1), 222–241. https://doi.org/10.30739/darussalam.v11i1.459
Tracy, S. J. (2010). Qualitative quality: Eight “big-tent” criteria for excellent qualitative research. Qualitative Inquiry, 16(10), 837–851. https://doi.org/10.1177/1077800410383121
Yani, A., Susmihara, S., & Nurkidam, A. (2023). Strategi pewarisan nilai-nilai pappaseng dalam masyarakat Bugis Wajo. PUSAKA: Jurnal Khazanah Keagamaan, 11(1), 82–99.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Andi Asdar, Mujahidah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
